Berbeda-Beda, Jual Apa Saja


(Mas Yuni saat berbincang dengan salah seorang pengunjung lapaknya © Benny Widyo)

Ra ngerti mas, cubo wae,” jawaban dari mas Yuni ketika ditanya tentang powerport atau biasa lebih kita kenal dengan sebutan “kepala charger”. Mas Yuni adalah salah satu pelapak di Klitikan Kotagede. Dia menjual berbagai macam peralatan elektronik, jam tangan, hingga aksesoris.

Dia menjual barang-barang yang tidak diketahui pasti kondisinya dengan kesadaran penuh, walaupun memang kebanyakan yang dijualnya berkondisi rusak atau mati. Sudah sekitar 7 tahun mas Yuni menjadi pelapak di Klitikan Kotagede, ini adalah mata pencaharian utama dan satu-satunya.

(Pak Kosim, pendatang yang juga ikut merintis hadirnya Klitikan di Kotagede, Yogyakarta © Benny Widyo)

Di sampingnya ada pak Kosim, yang merupakan salah satu perintis Klitikan Kotagede ini. Perintis dalam artian dia termasuk orang pertama yang mulai menjajakan berbagai barang bekas di area Kotagede ini. Orang Pamekasan yang sudah hampir 25 tahun menetap di Yogyakarta ini memulai kariernya sebagai pedagang asongan di terminal. Berasal dari keluarga Madura yang memenuhi stereotipnya: loak besi, Pak Kosim mencoba peruntungan yang sama dengan keluarganya, yang akhirnya membawanya pada temuan-temuan barang bekas yang bisa diperjualbelikan lagi ini.

(Pak Sukemi, salah satu pelapak di Klitikan Kotagede yang juga mahir dalam mereparasi barang-barang © Benny Widyo)

Di samping pak Kosim, ada pak Sukemi, seorang pensiunan driver bis kota. Dia berasal dari Riau, pernah menjadi PNS di Medan, tempat di mana dia bertemu dengan istrinya orang asli Kotagede, yang membawanya menetap hampir 35 tahun di Yogyakarta. Gaji PNS di Medan saat itu sangat rendah tidak cukup untuk membiayai keluarganya yang membuatnya memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta. Setelah 17 Tahun menjalani profesi sebagai driver bus kota ini, Pak Sukemi akhirnya (dipaksa) pensiun oleh kondisi kesehatannya yang bertepatan dengan adanya proyek bis TransJogja. Pak Sukemi memiliki “hobi” mengumpulkan barang bekas dan memperbaikinya, tidak disangka hobinya ini akan menjadi kegiatan yang menghidupinya di masa tua.

(Beragam barang dijual di lapak gelaran pedagang Pasar Klitikan Kotagede © Benny Widyo)

Tiga pelapak tersebut memberi ilustrasi bagaimana Klitikan ini berjalan. Orang-orang yang menjual-belikan berbagai jenis barang, dalam berbagai jenis kondisi, dan dalam berbagai macam kepentingan. Target pasarnya beragam, yang secara sadar atau tidak mereka ketahui keberadaanya. Seperti mas Yuni yang tahu bahwa ada dua jenis pembeli barangnya: tukang servis atau orang yang suka utak-atik barang, atau pak Sukemi yang targetnya pedagang lain sekaligus orang yang memang mencari perkakas kebutuhan rumah tangganya. Para pelapak seakan memiliki kesadaran untuk tidak bersaing secara head to head dengan pelapak lain yang ada pada mereka, bahkan cenderung saling melengkapi. Melihat dari kacamata ekonomi dan politik budaya, Klitikan Kotagede ini menjadi ruang yang cukup menarik keberadaannya.

(Situasi ketika lapak pedagang Klitikan Kotagede sudah ‘dibuka’ © Benny Widyo)

Ketika Klitikan lain di Yogyakarta telah mengalami kapitalisasi dan spesifikasi, seperti Klitikan Kuncen dan Imogiri, Klitikan Kotagede tetap berjalan bahkan semakin ramai. Kenapa? Mungkin karena Klitikan Kotagede menjadi satu-satunya yang menjadi sebenar-benarnya Klitikan. Seperti yang diungkapkan seorang pengunjung yang melihat-lihat lapak pak Sukemi, “Klitikan ki yo kudune ngene iki, ngemper wae, pedagange gratisan, pilihane macem-macem, wong- wong yo kari teko wae golek kebutuhane.”

Benny Widyo
Mahasiswa Pascasarjana
Kajian Budaya dan Media
UGM

(Untuk kumpulan foto etnografis selengkapnya, simak di sini!)


1 Comment

Leave a Reply