Berjumpa Buruh Keranjang Bambu: Perjumpaan Awal Pra-Proposal Biennale


(Mbah Surono, Penjual Keranjang Bambu di sekitar UGM-UNY)

Pada mulanya mengirimkan proposal pameran seniman muda pra-Biennale. Sekitar Maret lalu kami memberanikan diri untuk gayung bersambut atas publikasi itu. Benny, seorang seniman sekaligus sarjana fotografi ISI, mengajak teman-teman Pendulum untuk merumuskan pameran macam apa yang hendak didaftarkan.

Panitia merilis tema Pinggiran sebagai wacana utama yang mesti diikuti para calon peserta. Tentu saja dari sekian pendaftar yang mengirimkan proposal tersebut akan dikurasi, dipilih, dan diputuskan—sebanyak 16 seniman muda. Pendulum salah satu seniman muda (kelompok) yang beruntung itu.

Kesempatan kali ini aku ingin berbagi sekilas kisah mengenai awal mula Pendulum manfsirkan atas tema yang sudah dipatok panitia. Manakala membincang tentang Kelompok Pinggiran maka kami terbesit untuk mewacanakan kaum marjinal di sekitar kampus.

Ide itu muncul saat menyaksikan para pedagang keranjang bambu yang usianya terbilang sepuh di sekitar UGM dan UNY. Mereka acap kali menggelar dagangannya kala matahari mulai terbenam. Sampai larut malam pun, bahkan hingga subuh, mereka masih di situ. Sesekali terlelap tidur tentunya.

Kami memproyeksikan kaum marjinal melalui mereka. Bagi kami, kami cenderung memotret mereka bukan sebatas “kaum marjinal”, melainkan “dimarjinalkan” secara struktural ekonomi. Itu kenapa pendekatan teoretis yang kami gunakan tak terlepas dari ekonomi-politik ala Marxis.

Bila meminjam kategori Marx soal pembagian kelas sosial, para pekerja tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok proletar. Mereka sebagai kaum buruh yang menjajakan keranjang bambu sesungguhnya juga merupakan pekerja yang sekadar mendistribusikan dagangan tanpa memiliki alat produksi.

Hal itu makin kontras ketika Pendulum melakukan observasi. Kami menemui dua orang pedagang bambu di bilangan UGM. Saat melakukan wawancara sekitar pukul 22.00 WIB, mereka menyatakan kalau sudah lama berjualan di sana. Mereka berasal dari Dlingo, sebuah daerah yang terletak di ujung Kabupaten Bantul.

Terkadang diantar juragannya menggunakan mobil pick upke sekitar kampus. Namun, menurut pengakuan mereka, seringnya naik bus sampai ganti dua kali. Masuk usia pensiun alih-alih mereka berpangku tangan atau sekadar menikmati usia senja, mereka malah menghabiskan siang dan malam untuk mencari sesuap nasi.

Apa yang dilakukan para penjual bambu di sekitar perguruan tinggi bergengsi itu membuka mata kami. Bahwa di tengah pusaran kampus yang menjunjung kesetaraan maupun kesejahteraan intelektual, ternyata terdapat kelompok marjinal yang sedang berjibaku dengan himpinan ekonomi. Himpitan ekonomi itu tak semata-mata “terberi”, apalagi dimusababkan oleh kemalasan mereka, tetapi dikarenakan oleh ketidakadilan disparitas ekonomi makro akibat dari cengkeraman neo-kapitalisme.

Yang menjadi ironi atas realitas itu antara lain ketidakhadiran negara melalui institusi perguruan tinggi dalam menyikapi para penjual keranjang bambu. Seolah-olah di balik wacana kesejahteraan masyarakat yang kerap dipercakapkan di dalam kelas, para pelaku di perguruan tinggi menutup mata atas peristiwa itu.

Berangkat dari kegelisahan macam itulah Pendulum tergerak mewacanakan kaum pinggiran berdasarkan studi kasus para penjual keranjang bambu di sekitaran kampus. Kelak mereka bukan hanya dijadikan sebagai inspirator untuk dikaryakan menjadi seni rupa, melainkan juga diberi kesempatan untuk “bersuara” sebagai kaum subordinat. Sekaligus pula Pendulum tak merasa final hanya dengan mendiseminasikan, tetapi juga melakukan intervensi sebagai bukti keberpihakan.

Konteks demikian yang melatarbelakangi proposal seniman muda Pra-Biennale dibuat. Kami, sekali lagi, menerjemahkan kaum pinggiran sebagai kelompok marjinal secara ekonomi-politik. Dan inspirasi atas keterpinggiran itu kami dapatkan setelah menyaksikan para penjual keranjang bambu di sekitaran kampus.


Leave a Reply