Curah Gagasan Menuju Biennale Equator #5


(Pendulum serius menyimak salah satu juri)

Sebuah perjalanan yang menggembirakan bagi Pendulum, kolektif baru yang berusia belum genap satu tahun, terlibat dalam ekshibisi seni bernama Biennale Equator. Kabar baik yang kami terima pada 5 Agustus 2019 lalu membawa kolektif ini “terjebak” pada ruang belajar baru. Kerja-kerja kolaboratif rasanya harus lebih digiatkan agar kami layak menjadi bagian dari 54 seniman atau kelompok seni yang berpameran Oktober mendatang.

Salah satu juri Pra Biennale, Muhammad Zamzam Fauzanafi, berkenan membersamai proses olah gagasan dan produksi visual Pedulum menuju pameran utama. Pertemuan pertama kami pada Rabu (14/8) di kantor Yayasan Biennale menelurkan perspektif-perspektif baru dari kacamata antropologi visual.

(Pendulum sedang diskusi dengan Muhammad Zamzam Fauzanafi)

Zamzam menyampaikan catatan hasil penjurian dan alasan terpilihnya Pendulum. Beberapa juri tertarik dengan ide tentang ruang istirahat dan ritual ketakutan. Dalam penyampaianya, ia menegaskan bahwa orang acap kali abai menerjemahkan ruang istirahat para pekerja sebagai suatu hal yang terpinggirkan. Jamak orang melihat pinggiran dalam perspektif yang sangat makro. Pendulum berhasil memikat para juri dengan ide dan visualnya.

Intervensi ruang pamer menjadi catatan Pendulum. Kami harus mampu mengajak pengunjung merasakan atmosfer ketakutan dan ketidaknyamanan para pekerja. Pertanyaan tentang penggunaan bean bagmenjadi topik diskusi yang cukup seru. Bahkan, masing-masing kurator memiliki perspektif yang berbeda dalam melihat penggunaan bean bagsebagai intervensi kami.

Ini menarik, karena dalam eksperimen yang kami lakukan, beberapa pekerja pun tidak memahami penggunaan bean bag. Di sisi lain, mereka sedang menyusun kembali ruang istirahat yang ideal berdasarkan ruang-ruang rahasia. Kebingungan dan ketakutan para pekerja ini kami tampilkan dalam cuplikan-cuplikan audio dan teks pada karya yang kami pamerkan.

Usai pertemuan dengan Zamzam, pendulum akan melakukan riset lanjutan. Kami akan memetakan ragam ruang istirahat dan mengidentifikasi intervensi-intervensi lain yang dilakukan oleh para pekerja terhadap ruang. Nantinya ada dua kurator lain yang akan turut membersamai proses pengkaryaan ini, yaitu Akiq AW dan Arham Rahman.


Leave a Reply