Dallas W Smythe dan Pudarnya Orientasi KAA


Dallas Walker Smythe, atau yang sering disebut Smythe, sering muncul dalam berbagai tulisan bertemakan ekonomi politik. Smythe menjadi salah satu tokoh intelektual tentang ekonomi politik komunikasi. Smythe kecil lahir di Regina, Saskatchewan, Kanada, pada tahun 1907.

Dibesarkan oleh seorang ayah yang Presbiterian dan ibunya merupakan pengikut gereja Inggris, menjadikan agama hal penting baginya waktu kecil. Keluarganya sering membaca bagian dalam perjanjian baru yang membahas prinsip serta etika Kristen. Itu kenapa ia juga terpengaruh ide-ide sosialisme.

Smythe kecil dan keluarganya kemudian pindah ke California. Smythe mengawali pendidikannya di Amerika Serikat, tepatnya di University of California, Los Angeles. Kemudian ia melanjutkan ke Universitas of California, Berkeley, dan meraih gelar dalam bidang Ekonomi pada tahun 1928. Smythe melanjutkan program doktor pada Program Ekonomi di Berkeley.

Pemikiran Smythe tidak terlepas dari kondisi perpolitikan di Amerika. Ia memfokuskan kajiannya pada ekonomi politik komunikasi. Dalam buku karya Vincent Mosco (2009), Smythe menspesifikasikan pandangangannya tentang bagaimana Amerika Serikat memainkan isu politik dan pertahanan sosial sebagai bagian dari campur tangan global. Selain terpengaruh oleh politik, Smythe juga terpengaruh oleh depresi sebagai akibat dari kebangkitan fasisme pada tahun 1930-an.

Pada 1930-an Smythe sempat bekerja di Federal Communications Commission (FCC) dengan tugas mengikuti pergerakan buruh dan turut memberikan sumbangsih pemikirannya. Setelah keluar dari FCC pada 1948, ia melanjutkan perjalanan akademik di University of Illinois yang saat itu Wilbur Schraam mendirikan Institute for Communication Research.

Di tahun yang sama institut tersebut membuka program Ph.D. dalam Kajian Komunikasi yang aktif meneliti telaah kritis tentang media maupun ekonomi-politik. Nama-nama seperti Charles Osgod, George Gerbner, Theodor Adorno, dan Herbet Schiller juga pernah bergabung di situ.

Pemikiran Smythe sangat dipengaruhi ideologi Marxis. Namun, pandangan Smythe sedikit berbebda. Smythe menilai peran material (Industri Kesadaran) dalam monopoli kapitalisme berjalan melalui manajemen institusional yang mengurusi kebutuhan seperti iklan, marketing, dan media massa. Smythe menilai tidak ada seorang Marxis yang mempermasalahkan masalah problem demikian kala itu.

(Dallas W. Smythe/Sumber: opentextbc.ca)

Mereka hanya memikirkan media massa hanya sebagai produksi Ideologi. Inilah yang Smythe sebut sebagai “kelemahan” (blindspots) dari Marxisme Barat. Menurut Smythe, penonton “bekerja” sehingga mereka termasuk sebuah komoditas. Hal itu dikarenakan fungsi utama yang dijalankan media massa komersial untuk sistem kapitalis adalah dalamr rangka menjalankan agenda memproduksi kesadaran. Dalam media seperti televisi, radio maupun koran, memiliki peran untuk memberikan kenikmatan sesuai keinginan penonton—selanjutnya juga menawarkan produk barang dan pelayanan konsumen yang dijual melalui sebuah iklan yang produksi secara massal.

Penjualan ini menggunakan kesadaran penonton melalui iklan. Dalam tesisnya, Smythe (1981) menyatakan kalau tujuan dari agenda produksi kesadaran yang pertama adalah menjual produk barang dan layanan. Sedangkan tujuan kedua adalah legitimasi negara. Pada tujuan ini negara dilihat sebagai pengatur sistem kapitalisme dalam sebuah bangsa.

Setelah Perang Dunia ke-2 semakin kuatlah negara-negara Komunis maupun Liberal. Di sisi lain, usai Perang Dunia Jilid II itu negara-negara di Asia dan Afrika mulai terlepas dari cengkraman kolonialisme. Kemerdekaan di negara-negara kecil juga menjadi sasaran .negara besar yang sedang bersaing secara ideologis. Dalam kata lain, negara kecil terancam neo-kolonialisme yang akan dilakukan oleh Blok Komunis maupun Liberal

 

Relevansi KAA

Tahun 1954 menjadi awal gerakan yang diinisiasi Ali Sastromidjodjo selaku perwakilan Indonesia bersama dengan Nehru dari India, Mohammed Ali dari Pakistan, dan U Nu dari Birma, dan Sir John Kotelawala Perdana Menteri Srilangka.

Mereka berkumpul untuk berdiskusi tentang perlunya kerja sama di antara negara-negara yang baru saja merdeka. Atas dasar ancaman dari neo-kolonialisme dan neo-liberalisme, akhirnya di tahun 1955 lahirlah sebuah persatuan dari negara-negara di Asia dan Afrika atau yang dikenal sebagai KAA (Konfrensi Asia-Afrika).

KAA di Bandung menjadi titik tolak melawan neo-kolonialisme. Soekarno menjadikan KAA sebagai panggung untuk menuangkan ideologinya ke ranah internasional. Setelah kemunculan KAA itu seakan-akan membuka pandangan baru bagi negara-negara non-blok karena menjadi wadah bekerja sama.

Sebelum KAA percaturan internasional hanya dilakukan di forum PBB (Persatuan Bangsa Bangsa). Setelah KAA gerakan dari negara-negara berkembang untuk menolak bergabung dengan Kubu Komunis (Uni-Soviet) atau Kubu Kapitalis (Amerika Serikat) mulai mengemuka. Gerakan non-blok atau tidak berpihak pada Blok Barat (Amerika Serikat) dan Blok Timur (Uni Soviet) sempat banyak diminati negara-negara berkembang di tahun 1960-an.

Bagi negara-negara berkembang, KAA adalah awal yang bagus untuk melawan dominasi negara-negara maju. Bagi Soekarno sendiri, KAA dan Konfrensi GNB (Gerakan Non Blok) menjadi panggung internasinal untuk menawarkan ideologi NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme). Ideologi tersebut dimaksudkan untuk menengahi perbedaan ideologi antara Kapitalisme dan Komunisme di mana menjadikan agama sebagai titik tengah antara keduanya.

Bagi Smythe dan Schiller, KAA merupakan dunia ketika atau kelompok baru selain Amerika Serikat dan Uni-Soviet. Dalam konteks ekonomi dan politik, KAA menjadi sebuah ancaman bagi kapitalisme Amerika. Dengan menyadari “kehidupan ekonomi masyarakat tidak dapat dipisahkan dari konten simbolis” (Schiller, 1989: 31). Amerika menggunakan media sebagai alat penyebaran informasi dan penanaman kapitalisme.

Di tahun 50-an dan 60-an, pertarungan intelektual dalam dunia tidak bisa terlepaskan dari media. Para tokoh revolusioner seperti Mao Zedong, Ho Chi Minh, Amilicar Cabra, dan Che Guevara merupakan tokoh pemimpin intelektual terkemuka yang tidak terlepaskan dalam perkembangan sarana komunikasi untuk mendukung revolusi di dunia ketiga.

Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur tidak hanya melibatkan para tentara, tetapi juga intelektual dalam konteks kontestasi ideologi. Negara-negara dunia ketiga mengembangkan kritik terhadap teori modernisasi atau developmentalisme. Perspektif ini sering disebut juga sebagai “teori ketergantungan” dalam memahamai perkembangan ekonomi politik global. Namun, kebangkitan negara-negara berkembang tidak berlangsung secara lama.

Smythe dan Schiller memiliki sumbangsih pemikiran dalam konteks ekonomi-politik untuk perkembangan kapitalisme Amerika. Mereka mengemukakan informasi yang memiliki potensi dalam perkembangan kapitalisme. Amerika melakukan komodifikasi dalam kapitalisme dengan cara pendekatan ekonomi politik yang mengonsepkan “informasi”.

Melalui kombinasi kekuatan ekonomi, militer, dan informasi, Amerika dapat menggunakan kontrolnya (termasuk kontrol budaya) ke seluruh dunia. Upaya yang dilakukan untuk melawan di negara-negara ketiga, melalui gerakan pembebasan nasional, sebetulnya pada awalnya menentang dominasi Barat dan Amerika. Namun, ketika bisnis yang memanfaatkan sistem informasi yang canggih, perusahaan-perusahaan sekarang dapat beroperasi bukan hanya di pasar nasional, melainkan juga internasional.

Pemikiran Schiller berawal dari kesadaran bahwa “kehidupan ekonomi masyarakat tidak dapat dipisahkan dari konten simbolis” (Schiller, 1989:31). Informasi dapat mempengaruhi persepsi seseorang dalam melihat sesuatu. Konsumerisme tidak terlepas dari kecenderungan untuk membeli simbol-simbol yang melekat dalam barang tertentu. Konsumerisme dewasa ini menyebar di Eropa, Jepang, dan berbagai belahan dunia lainnya.

 

 

Daftar Pustaka

Dallas Smythe, “On the audience commodity and its work” dalam Dependency Road: Communications, Capitalism, Consciousness and Canada,(Norwood, NJ: Ablex, 1981).

Herbert Schiller, “A Quarter-century Retrospective,” dalam Mass Communication and American Empire, 2nd edition. (New York, NY: Westview Press, 1992/1969): 1-43

Mosco, Vincent and Janet Wasko. 1988. The Political Economy of Information. University of Wisconsin Press.


Leave a Reply