Hari Konsumen Internasional dalam Trajektori Cyberculture


(Foto via: toponlinenews.over-blog.com)

“Menggebunya hasrat akan konsumsi dikondisikan melalui imaji-imaji yang termediasi. Di sini media bermain peran cukup signifikan terhadap distraksi itu”

Di tengah riuh-rendah percakapan publik mengenai politik nasional tahun ini, jamak orang kerap luput menyorongkan fokusnya pada peringatan internasional Hari Konsumen pada 15 Maret. Meski momen itu telah lewat, bukan berarti kita berpaling, dan menganggapnya sepintas lalu. Ada hal penting di sana. Setidaknya sebagai titik teropong untuk melihat kecenderungan konsumtif masyarakat kita.

Politik praktis seakan-akan mempolarisasi kecenderungan masyarakat pilihan politik kita menjadi dua kubu. Realitas ini merenggut kohesi sosial kita bagai telur di ujung tanduk. Padahal, bila kita keluar dari tempurung sempit itu, wacana tentang konsumen serta implikasi empiris dalam kehidupan justru makin mendesak diperbincangkan.

Perilaku konsumtif datang dari sistem global yang terbuka bebas terhadap pusparagam pilihan gaya hidup. “Aku mengonsumsi maka aku ada” seperti telah menjadi diktum yang dilazimkan konstruksi sosial masyarakat kita. Konsumsi menarik atensi jamak orang karena mampu mendefinisikan subyek.

Seseorang mengimajinasikan sesuatu yang dianggap ideal dengan menempuh sekaligus memenuhi hasrat-hasrat internal di dalam diri. Teori identitas mutakhir mengeksplanasikan bahwa kecenderungan itu juga diakibatkan atas dasar pengaruh eksternal. Pendeknya, menggebunya hasrat akan konsumsi dikondisikan melalui imaji-imaji yang termediasi. Di sini media bermain peran cukup signifikan terhadap distraksi itu.

Kita teropong bagaimana media—berkat internet berikut kanal-kanal berbasis pasar—berhasil mengubah secara disruptif perilaku konsumtif masyarakat. Produk-produk yang ditawarkan beraneka rupa, tetapi dewasa ini, setelah mekanisme algoritma bekerja sistematis dan subtil, warganet disodorkan barang partikular yang disenanginya.

Mereka seperti dipameri secara cuma-cuma etalase produk yang sebelumnya sering dicari di internet. Sebagai contoh, manakala saya sering mencari produk-produk besutan Apple, maka baik Facebook, Instagram, Twitter, maupun laman-laman lain akan dipenuhi iklan-iklan serupa. Algoritma di akun media sosial saling berintegrasi dan setarikan napas dengan histori pencarian yang sering kita buka.

Demikianlah kehebatan jagat siber termutakhir yang secara tak sadar membangun perilaku konsumtif masyarakat. Pertanyaan berikutnya, saya kira, bukan lantas bagaimana membentengi diri agar tak terjebak pada perilaku konsumtif itu.

Sebab pertanyaan itu bersifat privat dan bila ditelisik jawaban kontekstualnya justru akan terjebak pada justifikasi moral yang dikotomis. Yang lebih relevan untuk kita cari adalah bagaimana mendefinisikan diri sebagai subyek-konsumtif di dalam arena cyberculture (budaya siber).

Fundamen Hari Konsumen Internasional

(Ilustrasi via: chinadaily)

Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy, pertama kali mempelopori gerakan konsumen modern pada 15 Maret 1963. Ia menandaskan empat hak konsumen antara lain hak atas keamanan, hak atas informasi, hak untuk memilih, dan hak untuk didengarkan.

Konteks historis yang dikemukakan presiden kharismatik negeri Paman Sam pada masa itu tak terlepas dari Perang Dingin yang sedang berkecamuk. Kennedy secara eksplisit hendak mengembalikan kedaulatan individu yang sebelumnya terrenggut oleh sentimen dan ketegangan rasialisme, sektarianise, serta isme-isme lain yang bersifat membatasi sekaligus mengalienasi antarindividu.

Spirit hak asasi manusia tercitra jelas di sana. Seiring dengan laju konteks sejarah, hak konsumen meluas sekaligus menukik pada situasi partikular. Dalam cakupan budaya siber, poin hak atas informasi yang dikemukakan Kennedy menarik didedah lebih lanjut.

Meneropong kondisi sosiologis bangsa Indonesia yang sebagian besar merupakan pengguna media sosial terbanyak di dunia menandakan progresivitas mereka di dalam percakapan global. Namun, benarkah demikian? Apa kaitannya dengan kecenderungan konsumsi informasi?

Konsumsi informasi makin menggejala di dalam praktik bermedia sosial masyarakat Indonesia. Mereka, terutama kelas menengah, haus akan informasi aktual sehingga mendaras berita daring mengakik dalam habituasi sehari-hari.

Mereka seperti tak ingin tertinggal arus kabar di sekitar, baik skala lokal, nasional, maupun internasional, khususnya menyangkut kepentingan personal. Wajah masyarakat kita, dengan kata lain, niscaya merupakan pantulan dari warta informasi yang beredar di media massa.

Kecenderungan masyarakat yang rajin mengonsumsi informasi di satu sisi menjadi citra positif melek literasi, namun di sisi lain menegaskan seberapa kritiskah mereka “mengunyah” informasi itu. Pada aras ini saya ingin menguak bagaimana realitas tersebut juga terjebak pada situasi paradoksal. Seharusnya mereka teredukasi berkat bacaan tapi kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Baru-baru ini Tirto.id mengungkap mayoritas penyebar hoaks justru orang tua. Inilah problem kita dewasa ini.

Terlepas dari prakondisi kenapa kalangan tertentu merupakan golongan paling rajin menyebar hoaks di jagat siber, kita dapat bertanya sebab-musabab kecenderungan konsumsi informasi yang serampangan itu. Nalar (literasi) kritis sering disodorkan sebagai tameng paling ampuh untuk menekan distribusi hoaks. Hal itu tentu dilakukan dengan proses membaca kritis dan komprehensif sehingga pola mengonsumsi informasi tak sekonyong-konyong berangkat dari “menggayung bacaan” tapi “mengkritisi bacaan”—di sinilah letak akar permasalahannya.

Di jagat siber orang dengan mudah menampilkan diri secara imitatif sebagai individu yang terdidik dengan seberapa banyak ia mengonsumsi sekaligus membagikan informasi. Tapi kecenderungan itu juga merupakan redefinisi atas subyek yang hendak dikonstruksi agar tampil pintar dan akhirnya mendapat modal simbolik di mata khalayak.

Akhirnya, pola konsumsi informasi semacam itu hanya sebatas ingin disanjung. Demikianlah realitas masyarakat pamer (spectacle) seperti dikonsepkan Guy Debord—sekadar menegaskan posisi into appearing di ruang publik berbasis siber.


Leave a Reply