Instagraman Sejak dalam Kandungan


(Ilustrasi via theverge.com)

Sekitar satu tahun lalu, seorang teman menyeletuk, “Aku wes follow Instagrame Bhre Kata lo.” Aku kemudian menjawab, “Weh sopo kui?” Temanku itu menimpalinya kembali: “Kae lo anakke Zaskia Mecca sek iseh nang weteng.” Tanpa pikir panjang aku merespons, “Wah, durung lair wes due Instagram.”

Sejak ada kejadian itu saya jadi sering kepo soal akun Instagram anak-anak bayi. Lucu dan menggemaskan memang. Followers mereka pun lumayan banyak, bahkan kadang lebih banyak daripada orangtuanya. Apalagi, kalau itu anak artis yang sudah terkenal, walaupun akun tersebut dioperasikan oleh orangtuanya.

Media sosial memang mengubah segala hal dalam aspek kehidupan, termasuk yang dilakukan para orangtua millenial saat ini. Di Indonesia sendiri, fenomena baru yaitu “momstagram” memang sedang naik daun.

Mereka lebih sering berinteraksi melalui sosial media dan sudah menjadi satu hal penting yang musti dilakukan. Mereka akan senantiasa untuk membagikan foto-foto atau video terbaru di dalam akun Instagram anaknya: sekadar untuk dokumentasi atau berbagi ilmu mengenai parenting kepada followers-nya. Tentu saja hal ini menimbulkan pro-kontra di masyarakat, namun semua kembali kepada kalian, Guys, bagaimana menanggapinya. Hehe.

Banyaknya akun Instagram anak artis menimbulkan keinginan para orangtua (yang bukan artis) untuk membuatkan akun Instagram anaknya yang baru lahir atau pun sejak dalam kandungan. Foto-foto USG kandungan pun dengan bebas dapat di upload di akun tersebut.

(Banyaknya akun Instagram anak-anak artis menjadi sebuah tren tersendiri yang diikuti oleh publik via: romper.com)

Namun, perlu dipikirkan kembali, dampak yang akan didapat setelah anak tersebut remaja, bahkan dewasa. Yang pasti anak tersebut akan menjadi kecanduan dengan kamera. Ketika besar mungkin akan timbul rasa malu dengan hal tersebut. Namun, relasi yang anak itu dapat juga semakin luas karena akun Instagram miliknya dibanjiri pengikut.

Menurut Michel Foucault, konsep kekuasaan masyarakat modern saat ini adalah disiplinary power. Kekuasaan bukan berdasarkan pada suatu otoritas tertentu, melainkan untuk mengontrol relasi sosial, ekonomi, keluarga, serta seksualitas.

Kekuasaan ini dapat dipandang sebagai relasi-relasi yang beragam dan tersebar seperti jaringan, yang mempunyai ruang lingkup yang strategis. Pada konteks ini kekuasaan yang ditawarkan mengenai normalisasi kelakuan yang didesain dengan memanfaatkan produksi maupun reproduksi tubuh.

Ketika akun Instagram dikendalikan oleh orangtuanya, sangat terlihat jelas kekuasaan itu sesungguhnya terletak pada orangtuanya. Orangtua dengan leluasa dapat mengunggah apa saja, termasuk tumbuh-kembang pada anak tersebut.

Ada rasa bahagia ketika mereka mendapatkan like dan jumlah followers yang banyak. Mereka akan terus mengunggah foto-foto dan video anaknya agar jumlah like dan followers semakin banyak. Tidak dapat dipungkiri, anak tersebut bisa menjadi selebgram.

Memang fenomena selebgram anak juga sedang naik daun di negara ber-flower” ini. Semakin tinggi jumlah followers-nya maka makin memungkinkan akun tersebut mempromosikan sebuah produk atau biasa disebut endorse.

Di dalam peng-endorse-an ini pun tidak segampang yang dibayangkan. Ada beberapa peraturan yang mesti ditaati. Para peng-endorse ini meminta tempat foto harus disesuaikan menurut logika pasar dan estetika. Secara tidak langsung ini sudah menjadi bagian dari eksploitasi anak. Eksploitasi bisa terjadi akibat adanya dominasi. Dalam hal ini bentuk dominasi orangtua terhadap anaknya.

Tidak hanya itu. Para orangtua ini juga dapat membagikan pengalaman mengenai parenting kepada followers-nya. Hal ini merupakan sisi positif dan akan membentuk ruang virtual yang dalam fenomena ini relatif baru di media sosial.

Secara tidak langsung, foto maupun video yang diunggah dalam akun Instagram, dapat membentuk standardisasi baru dalam dunia tumbuh-kembang anak. Di mata followers boleh jadi terbesit hasrat untuk “seperti itu” ketika kelak memiliki anak. Pada akhirnya, di balik akun Instagram yang lucu dan menggemaskan itu ada sesuatu yang akan menjadi madu dan racun.

Rahma Novita
Mahasiswi Pascasarjana
Kajian Budaya dan Media
UGM


Leave a Reply