Kecemasan dalam Keramaian


© Pierre Bourdieu

Pierre Bourdieu dalam foto berjudul Algeria (1959) memotret lanskap apik dengan pemosisian subjek di dalam kerumunan. Dipandang dari titik fokus utama, Pierre Bourdieu menyorot dua orang perempuan berpakaian putih polos dengan cadar yang menyisakan sepasang mata terbuka.

Kedua perempuan itu kira-kira berusia kepala tiga. Meskipun pakaian menutup sekujur tubuhnya, tumit kedua perempuan tersebut terlihat. Tampak pula sandal mereka dan pakaian bermotif kotak-kotak yang dikenakan perempuan sebelah kanan.

Di sekeliling dua perempuan bercadar terdapat puluhan orang berpakaian rapi dengan warna hitam yang dominan. Mereka terlihat sedang antre di depan sebuah toko bernama Radiola. Tak jelas latar belakang mereka: apakah berkebangsaan Prancis atau Aljazair.

Secara historis ketika foto itu diambil Pierre Bourdieu, Prancis sedang menduduki Aljazair sebagai penjajah. Kekuasaan Prancis mengakar kuat di sana sejak 1830. Seperti dikutip Alistair Horne dalam buku bertajuk A Savage War of Peace: Algeria 1954-1962 (1978: 68), sejak saat itu Aljazair menjadi orientasi primer ratusan ribu imigran Eropa sebagai tempat tinggal atau mencari peruntungan.

(Pierre Bourdieu via: socialcapitalresearch.com)

Dua orang perempuan berjubah putih polos dan puluhan orang berpakaian ‘ala Eropa’ dalam foto mempertegas perbedaan visual yang sedemikian kontras sehingga mengindikasikan oposisi biner: Timur dan Barat, modern dan tradisional, feminin dan maskulin, serta batas-batas konstruktif lain.

Pendikotomian itu dipertegas oleh konteks ruang-waktu antara penjajah dan terjajah, bahkan pada titik tertentu dua perempuan yang difokuskan mencitrakan seorang muslimah, setidaknya diperkuat oleh atribut yang dipakainya. Kesemuanya itu berada dibentuk oleh, dari, dan melalui wacana.

Hall (2003: 40) mengatakan kedudukan subjek selalu diproduksi melalui wacana. Posisi ini kemudian yang membentuk atribusi-atribusi personal yang di dalam konteks foto tersebut menandaskan suatu nuansa sosio-historis yang mencolok.

Orang-orang yang tersubjektivikasi di sana niscaya terikat oleh wacana yang pada tataran tertentu dapat diterka bagaimana relasi antarpersonal dibentuk. Tentu hubungan antarsubjek yang dimaksud menginduk pada narasi kolonial yang membentuk pola hierarkis. Potret semacam inilah yang begitu dominan di dalam foto karya Pierre Bourdieu.

Posisi subjek yang terposisikan oleh wacana menyiratkan implikasi-implikasi partikular terhadap bagaimana mereka direpresentasikan. Keterkondisikannya individu pada aras ini kemudian menderivasikan gender, kelas sosial, ‘rasial’, dan karakteristik etnis lain yang tak terlepas dari cakupan wacana.

Di samping itu, bila meneroka dari perspektif lain, seperti dimensi psikologis, dua orang subjek berpakaian putih yang disorot Pierre Bourdieu terlihat cemas. Kecemasan itu ditandai oleh sorot mata mereka yang seakan-akan menyapu sekeliling.

Kecemasan itu timbul, salah satunya, barangkali karena distingsi pakaian yang tak lazim di tengah kerumunan orang yang memakai baju khas Eropa.

Perasaan tersebut wajar mencuat sebab betapapun konstruksi psikologis yang mereka rasakan selalu terkondisikan oleh wacana: mengidentifikasi diri sebagai liyan, baik dalam pengertian masyarakat terjajah maupun preferensi agama.

Pierre Bourdieu dalam foto bertajuk Algeria berhasil menangkap momen itu. Terutama memadatkan relasi dan posisi subjek.

Rony K. Pratama
Mahasiswa Pascasarjana
Kajian Budaya dan Media
UGM


Leave a Reply