Mempertanyakan Provokasi Anti Rokok


Merokok lintas gender: bisa perempuan maupun laki-laki

“Kamu perokok ya? Hati-hati orang di sekitarmu bisa terkena kanker paru-paru”

Begitulah maksud dari provokasi anti rokok terhadap kematian salah satu tokoh nasional yang meninggal karena penyakit kanker. Video pendek tersebut langsung menyebar luas melalui media sosial. Dampak yang ditimbulkan dari beredarnya video provokasi tersebut menjadikan jurang pemisah antara perokok dan tidak perokok.

Seorang sarjana yang memiliki latar belakang pendidikan yang cukup baikpun tidak bisa lepas dari kontruksi ideologi dalam video tersebut. Ideologi di sini bukan hasrat untuk berkuasa, melainkan sebagai cara pandang (Faiclough, 1995). Mereka yang ikut menyebarkan video tersebut secara tidak langsung mendiskreditkan seorang perokok dan mengukuhkan bahwa penyebab kangker adalah rokok.

Cukup disayangkan generasi milenial yang masih mewarisi tradisi-tradisi generasi old, di mana mereka dapat langsung reaksioner terhadap suatu fenomena tanpa berpikir kritis terlebih dahulu. Mereka sulit lepas dari berbagai macam penjejalan informasi yang sudah terkontaminasi oleh ekonomi-politik di belakangnya. Media membantu penyebaran informasi melalui sebuah gambar maupun teks yang sudah dibumbui kepentingan tertentu.

(Ilustrasi: Facebook/CharitaUtamy)

Institusi pendidikan dan institusi negara juga memiliki peran yang penting dalam hal ini. Sebagai contoh, bagaimana ideologi yang diciptakan oleh Orde Baru yang mendiskreditkan orang-orang bertato. Menghasilkan sebuah wacana “orang bertato sama halnya dengan orang nakal atau orang jahat”.

Runtuhnya rezim Soeharto juga mulai melunturkan ideologi yang dibangun: sekarang bertatodiangap sebuah seni dan tidak semua orang yang bertato adalah orang jahat. Namun, pandangan negatif terhadap orang yang bertato masih diamini oleh beberapa orang-orang tua sekarang karena mereka sudah terkontaminasi ideologi yang dibangun oleh Soeharto.

Membincang video Sutopo yang viral itu, saya kira, terdapat sebuah upaya untuk menciptakan ideologi yang mendiskreditkan perokok. Jika dicermati secara detail, terdapat fenomena lucu dan aneh ketika banyak informasi dalam bentuk teks maupun visual yang mengatakan, “Merokok dapat menyebabkan penyakit kangker, jantung, dan lain sebagainya.”Ketika banyak perokok tidak terkena penyakit kangker atau jantung, justru orang yang tidak merokok terkena penyakit, sehingga narasinya berubah, “Merokok membahayakan lingkungan sekitar Anda dan perokok pasif lebih berbahaya!”

Yang perlu kita ketahui bahwa penyakit kanker bukan selalu hanya tentang rokok. Paparan zat kimia yang bersentuhan langsung dengan kita maupun terhirup bersifat karsinogenik seperti radon, asbes, arsenik, senyawa nikel, produk batubara, limbah diesel, serta eter chloromethhyl, juga menyebabkan terjadinya penyakit kanker paru-paru (Rokok Indonesia, 2019).

Benzopyrene atau zat dari sisa pembakaran menyebabkan sel-sel berkembang tidak normal dan menyebabkan kematian sel juga memicu terjadinya kanker. Rokok, karenanya, bukan menjadi satu-satunya penyebab kangker. Prof. Thomas Munzel dari Departemen Kardiologi, Universitas Medical Center Mainz, Jerman, menjelaskan bahwa polusi udara lebih berbahaya dan banyak menyebabkan kematian daripada merokok. “Merokok dapat dihindari tetapi polusi udara tidak,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari Komunitas Kretek(2019).

Sejarah awal rokok diawali dari penggunaan tembakau yang dihisap maupun hirup. Pada masyarakat Aborigin, menghisap tembakau dipercaya dapat menyembuhkan flu. Jika dilihat dari sejarah perkembangan rokok di Indonesia, saya kira tidak terlepas dari Pak Djamari yang mulai mengawali “rokok sebagai obat”.

Ia meracik tembakau yang ditambah cengkeh dan bungkus klobot jagung. Bahan tersebut digunakan untuk menyembuhkan penyakit sesak di dadanya. Cerita itu terus berkembang dan banyak permintaan terhadap racikan Pak Djamari. Itulah yang mengawali industri kretek pertama di Indonesia, tepatnya di kudus, dengan merek awal Tjap Bal Tiga.

Penolakan terhadap rokok kretek Indonesia tidak terlepas dari bagaimana ekonomi-politik di belakangnya. Para pesaing dunia internasional berusaha merusak pasaran rokok Indonesia. Persaingan dalam dunia bisnis sering menggunakan berbagai macam alat, termasuk penyelewengan informasi. Cerutu Kuba pernah mendapat berabagi macam kritikan. Namun, akibat sang tokoh revolusi, Che Guevara, cerutu Kuba dengan cita rasa yang khas dapat bertahan.

Berbeda dengan rokok kretek khas Indonesia yang semakin hari semakin menghilang akibat “kalah saing”. Rokok filter Indonesia masih memiliki cita rasa yang khas dan variatif karena terdapat cengkeh dalam kandunganya. Saya kira produk rokok Barat sangat sulit bersaing dengan rokok Indonesia karena sebagian besar rokok di sana memiliki rasa yang “hambar”.

(Ilustrasi: smokeweapon.com)

Selain itu, kapitalisme memasuki berbagai lini, termasuk institusi kesehatan. Sebagai contoh, kita bisa dilihat bagaimana sejarah pelarangan ganja. Dimulai dari fatwa haram MUI sekitar 1970-an hingga mulai dibuat peraturan yang memasukan ganja sebagai bagian narkotika. Hal ini menyebabkan peredaran ganja menjadi ilegal. Namun, sekarang mulai terkuak bahwa tanaman ganja memiliki banyak kasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit kelas berat seperti HIV.

Hal itu tidak terlepas dari politik internasional di lingkungan kesehatan. Karena dengan menjadikannya ganja ilegal, akan menghambat pengembangan penelitian dan pengetahuan terhadap ganja. Seperti yang diungkap Tirto.id(2018), terdapat banyak sekali zat yang memiliki manfaat untuk medis seperti THC (Delta-9 tetrahydrocannabinol) yang memiliki efek analgesik atau penghilang rasa sakit, sifat anti-spasmodik atau menghilangkan kejang-kejang, anti-tremor, anti-inflamasi, dan lain sebagainya.

Masih dilansir dari Tirto.id (2018), zat lain bernama (E)–BCP (Beta-caryophyllene) dapat digunakan sebagai pengobatan nyeri, arthritis (peradangan sendi), sirosis (peradangan dan fungsi buruk pada hati), mual, dan lain-lain. Cannabidiol (CBD) mengandung sifat anti-inflamasi, anti-biotik, anti-depresan, anti-psikotik, anti-oksidan, serta berefek menenangkan.

Itu kenapa, saya kira, sebuah ancaman bagi dunia korporasi di lingkungan kesehatan jika mengembangkan penelitian ganja untuk kesehatan. Kerena ganja akan menjadi alternatif obat yang dapat menggeser produk obat-obatan dari luar. Wilayah geografis Indonesia juga sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman ganja.

Hampir sama dengan ganja, nasib rokok masih menjadi kontroversi di masyarakat sekarang. Rokok seperti dua sisi mata uang, sebagian besar menganggap tidak baik untuk kesehatan (yang belum terbukti). Legitimasi dari institusi kesehatan acap kali luput dari kritik masyarakat kita sekarang. Padahal institusi kesehatan juga berperan dalam penciptaan ideologi yang mengarah kepada ekonomi dan politik.


Leave a Reply