Menengok Kontestasi Promo Cashback Penyedia Jasa Mobile Payment


(Ilustrasi via: blog.directpay.online)

(Tulisan ini merupakan catatan etnografis pendek saya ketika berkunjung ke salah satu mal terbesar di Yogyakarta: Hartono Mall. Data dihimpun pada tanggal 25 Maret 2019. Boleh jadi tulisan ini akan menjelaskan pecahan kecil dari fenomena mobile payment yang kini marak sebagai pembayaran pengganti uang dan kartu debit maupun kredit. Khususnya di daerah perkotaan saat melakukan pembayaran secara langsung di gerai.)

Eskalator yang berada di basement Hartono Mall, Yogyakarta, membawa saya menuju lantai lower ground. Usai berjalan beberapa langkah di lantai tersebut, saya melihat banyak sekali banner yang di tempatkan di depan gerai makanan-minuman.

Ada kesamaan desain dan pesan dari banner-banner tersebut, yakni pemberian cashback jika pelanggan ingin melakukan pembayaran melalui GO-PAY atau OVO. GO-PAY dan OVO merupakan dua alat pembayaran digital berbasis ponsel yang terintegrasi dengan GO-JEK dan GRAB. Aplikasi transportasi online ini terlaris di Indonesia.

(Tak sedikit area depan gerai-gerai yang ada di Hartono Mall menjadi tempat kontestasi promo cashback dari penyedia jasa mobile payment Foto: dok. istimewa)

Jumlah persentase cashback yang ditawarkan keduanya beragam. Tidak semua gerai menjadi rekanan GO-PAY sekaligus OVO. Di beberapa gerai, GO-PAY menawarakan promo cashback yang lebih besar, sementara penawarannya bisa berbeda ketika menengok gerai lain. Gerai-gerai yang menjadi rekanan dua dompet digital tersebut terbagi atas dua jika dilihat berdasarkan skala pasarnya, yakni nasional dan lokal (Yogyakarta dan sekitarnya).

Tidak hanya di lower ground, dua gerai yang ada di ground floor, Starbucks dan J.Co, juga menjadi rekanan GO-PAY. GO-PAY memberikan cashback sebesar 20 persen jika penggunanya berbelanja barang yang tersedia di J.Co. Untuk Starbucks, ada produk khusus yang dijual seharga Rp 29.000 apabila menggunakan GO-PAY. Akan tetapi, keduanya tidak memampang banner promo dari GO-PAY seperti halnya gerai di lower ground, namun informasinya tersiar melalui laman media daring.

Naik ke 1st floor, ada sebuah gerai baju berskala lokal yang memampang banner promo cashback dari GO-PAY dan OVO. Di 2nd floor berjejer kedai makanan yang berskala nasional yang menempatkan banner promo cashback,  baik dari GO-PAY maupun OVO. Dan yang paling sesak dengan promo cashback dari GO-PAY dan OVO adalah food court yang berada di  3rd floor. Hampir setiap meja kasir yang ada di sana menempelkan tanda promo dari kedua dompet elektronik tersebut dalam beberapa bentuk.

Ada beberapa ketentuan yang diterapkan oleh kedua penyedia jasa untuk program cashback yang mereka berikan. GO-PAY rata-rata memberikan cashback Rp 15.000 sampai 20.000 ke dalam saldo dompet elektronik penggunanya dalam satu kali transaksi. Sedangkan OVO yang memberikan cashback hingga 60 persen maksimal mengembalikan Rp 30.000 kepada pengguna jasanya dalam bentuk OVO Point. Saldo OVO Point merupakan bagian lain dari saldo OVO cash. Saldo OVO Point hanya bisa digunakan di gerai-gerai tertentu yang bertuliskan OVO Zone saja.

Saya memutuskan untuk menggunakan GO-PAY pada transaksi yang akan saya lakukan dengan menimbang bahwa saya telah memiliki aplikasi GO-JEK. Harus mengunduh dahulu aplikasi OVO jika saya ingin menggunakan dompet elektronik yang masuk dalam salah satu anak perusahaan dari Lippo Group tersebut.

Di sebuah gerai minuman, saya menghabiskan Rp 31.000 untuk satu barang. Oleh karena menggunakan GO-PAY dan promo cashback sebesar 40 persen, saya mendapatkan Rp 12.400 sebagai cashback setelah melakukan scan QR code yang tercetak pada tagihan.

Untuk konsumen seperti saya, promo cashback boleh jadi hal yang menguntungkan karena dapat menghemat ongkos. Boleh jadi juga promo seperti ini membuat pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga bagi konsumen karena sifatnya begitu menggiurkan dan masa berlakunya yang temporer.

Gerai-gerai rekanan GO-PAY dan OVO tentu merasakan efek positif dari aksi bakar modal kedua dompet digital tersebut. Penjualan dapat meningkat tanpa perlu memotong margin keuntungan untuk promosi. Begitu juga dengan mal sebagai tempat konsumsi yang lebih luas. Akan semakin ramai jika jumlah konsumsi meningkat, sehigga gerai-gerai yang berada di dalamnya makin meningkat pula.

(Walaupun saling saing untuk promo cashback yang mereka lakukan, para penyedia jasa mobile payment ini secara tidak langsung membentuk masyarakat cashless. Foto: dok. istimewa)

Tidak seperti kartu kredit, mobile payment menggunakan sistem top up sebelum melakukan transaksi. Seperti halnya kartu debit, pengguna tidak bisa menggunakan akunnya untuk transaksi jika jumlah saldo kurang dari harga barang yang hendak dibeli. Ada kemungkinan pengguna mobile payment berbelanja sesuai dengan nominal pendapatan yang mereka miliki, namun bisa juga sebaliknya jika ketika pengguna melakukan top up menggunakan dana dari sumber kredit.

Gerilya promo cashback dari kedua layanan tersebut tidak lain untuk menjaring lebih banyak pengguna jasa yang mereka sediakan untuk siklus transaksi yang sifatnya harian. Meskipun terlihat saling berkontestasi, baik GO-PAY, OVO, maupun penyedia jasa lainnya, serupa saling menyokong satu-sama lain untuk membentuk suatu ekosistem masyarakat cashless yang sama.

Lebih menguntungkannya moda pembayaran mobile payment daripada moda cashless lainnya seperti kartu kredit atau debet adalah, mobile payment tidak membebankan biaya transaksi pada penggunanya. Ketika dibandingkan dengan pembayaran tunai pun, mobile payment lebih menguntungkan apabila gerai tersebut masuk dalam daftar promo cashback.

Apabila sudah mengendap menjadi jasa pembayaran yang digunakan oleh masyarakat secara masif, mobile payment dapat mengolah data yang didapatnya untuk dijadikan beberapa hal yang menguntungkan. Mobile payment dapat memberikan informasi kepada pedagang barang-barang apa saja yang menjadi permintaan konsumen dan menyesuaikannya dengan supply.

Pengolahan data juga dapat berkisar pola transaksi harian masyarakat secara luas yang dapat dijual kepada pihak-pihak tertentu sebagai data pengganti/penyokong riset dan pengembangan produk yang akan dijualnya. Penyedia jasa dapat pelan-pelan menarik promo yang mereka berikan.

Moda pembayaran seperti ini boleh jadi membuat masyarakat kehilangan privasinya, karena kerja sistem pengelolaan datanya mirip dengan kerja panoptikon: tak kasatmata tapi dapat memindai setiap konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat. Bukan tidak ada pilihan lain jika pembayaran semacam ini sudah dirasa tidak menguntungkan lagi. Kita masih bisa kembali menggunakan uang konvensional selama masih menjadi alat tukar yang sah.


Leave a Reply