Mereka(m) Ruang: Respons & Intervensi


(Kutipan Kata dari Narasumber)

Ruang menjadi kata kunci pada proyek perdana Pendulum ini. Setelah melewati proses memasak gagasan dan isu yang cukup menyenangkan, akhirnya kami sampai pada tahap penyajian. Tahap yang secara (audio)-visual akan mewakili apa-apa saja yang ingin kami sampaikan. Ini bukan proses sekali jadi. Kami melakukan beberapa eksperimen, trial and error, hingga beberapa kali merumuskan konsep tentang bagaimana karya kami nantinya.

Betapa pun ini perhelatan seni rupa (Biennale Jogja). Kami menyadari itu sedari awal. Kami sedikit-banyak juga membedah tentang karya-karya seni rupa sejak tahap persiapan proposal. Kami memilah dan mencurahkan konsep karya yang akan menjadi media untuk menyampaikan gagasan tentang tema pinggiran ini.

Ketika ditarik kembali, karya akhir kami pada pameran Pra-Biennale 2019, mengalami pengembangan dan berubah cukup signifikan secara konseptual di proposal.Awalnya kami memang sudah menuliskan tentang karya foto sebagai medium utamanya, Meskipun belum spesifik fotonya akan seperti apa karena kami masih belum melakukan riset pada saat itu. Selain itu, kami menyebutkan tentang keberadaan etalase hasil kerja kolaborasi kami dengan para subjek. Tidak berhenti di situ, kami juga akan menambahkan karya instalasi-interaktif dalam konsep awal kamiini.

Setelah diumumkan proposal kami lolos, kami mulai menjalani pertemuan-diskusi-bimbingan dengan pihak Biennale Jogja, terutama kurator. Yang paling diingat dari pertemuan pertama adalah pembahasan gagasan yang lebih ditekankan, sedangkan bentuk akhir karya ini dikesampingkan terlebih dahulu. Dengan kata lain, kami harus memperkuat ide dan gagasan, setelah itu baru bagaimana kita menyajikannya.

Kami sadar, sebagai kelompok dan terlebih untuk isu yang diangkat, kami harus benar-benar mematangkan gagasan, melakukan proses riset-etnografis, dan tentunya kami akan melibatkan para informan dalam kerja-kerja kolaboratif. Dalam proses riset kami mengamati dan secara berkala berbicara dengan beberapa informan. Tentunya kami juga melakukan diskusi lagi dengan kurator Biennale Jogja, yang akhirnya membawa kami pada beberapa poin bentuk karya, yaitu staged photography, dokumentasi-arsip kerja, dan replikasi ruang.

(Rest in Fear)

Beanbag menjadi bentuk intervensi yang sekaligus sebagai simbol dari intervensi sosial atas kebutuhan ruang istirahat yang lebih layak. Informan kami adalah orang-orang yang menghabiskan waktu kerjanya dengan berdiri. Keberadaan ruang istirahat menjadi sangat penting. Isu tentang ketiadaan ruang inilah yang ingin kami sampaikan melalui karya. Selain itu, beanbag ini juga menjadi objek penanda yang digunakan dalam serial foto karya.

Dalam space seluas 3 x 10 meter, di lantai 2 gedung pameran PKKH UGM, kami membuat karya berbasis mix-media sebagai berikut. Pertama, kami melakukan penciptaan karya fotografi staged, dengan informan sebagai subjeknya. Treatment-nya adalah foto berlatar ruang tempat biasanya mereka beristirahat. Dengan pose duduk istirahat di beanbag, muka ditutup (untuk membuat mereka tetap anonim) dengan barang yang berkaitan dengan pekerjaan mereka, fotonya kemudian diambil dari perspektif high angle melalui lensa sudut lebar.

Pemilihan angle ini dimaksudkan untuk menyerupai sudut pandang kamera CCTV yang sebenarnya dihindari mereka. Secara semiotis hal tersebut menunjukkan relasi kuasa, hegemoni yang menjadikan mereka terpinggirkan, dan situasi teralienasi. Total tiga foto dalam satu seri karya ini disajikan dalam satu instalasi frameberbentuk segitiga seperti neonbox yang biasa kita temui di pusat keramaian, khususnya di mal.

(Nasir Tamara, Salah Satu Juri Pra-Biennale 2019)

Kedua, kami mereplikasi beberapa visual-artistik mal dalam penyajian data dan display ruang pameran. Kami menggunakan cara tenant di mal ketika menutup areanya untuk renovasi. Di dalam ruangunder construction yang kami replikasi itu disajikan video dokumentasi ketika penyerahan dam penggunaan beanbag. Kemudian kami juga menyajikan kutipan-kutipan dari informan dengan desain tipografi layaknya yang bisa kita temui di mal.

Dalam pewarnaan menggunakan warna kuning dan ungu yang secara kontras menarik perhatian. Terakhir kami menyajikan rekaman audio hasil wawancara. Alih-alih menggunakan earphone supaya lebih jelas bisa didengarkan, kami lebih memilih untuk mengeraskan suaranya, menunjukkan betapa bisingnya keramaian tempat mereka bekerja dan apakah suara-suara mereka masih didengarkan.

Karya ini secara utuh memperlihatkan hal-hal kontras yang terdapat dalam satu ruang. Bagaimana meriahnya pusat keramaian ini, baik secara ruang maupun aktivitas yang terjadi di dalamnya, cukup kontradiktif dengan apa yang terjadi pada para pekerjanya. Meskipun berada pada ruang yang sebenarnya sama, tetapi para pekerja tersebut menjadi pihak yang terpinggirkan.

Rest in Fearadalah judul karya kami. Ini semacam plesetan dari Rest in Peace. Judul ini kami pikir cukup menunjukkan isu yang ingin kami sampaikan, bagaimana ritual-ritual ketakutan ketika beristirahat itu “dinikmati” oleh para pekerja.

Seperti umumnya sebuah proses, penciptaan karya ini tak semudah yang dibayangkan. Kami harus bernegosiasi dan menyusun strategi yang matang dalam proses produksinya karena ini berkaitan dengan perorangan, pekerjaan, dan “kerahasiaan” yang mereka simpan. Kemudian, sebagai kelompok baru yang belum matang secara keuangan, kami harus bernegosiasi dengan diri kami sendiri dalam proses pemilihan material dan produksi pembuatan karya. Tentunya masalah efektivitas dan efesiensi produksi menjadi catatan tersendiri yang harus dibenahi.

Puas tidak puas, kami sangat menikmati dan bersyukur telah berhasil menyelesaikan proyek perdana kami. Kabar baiknya adalah kami langsung diberi kesempatan dan ruang untuk mengembangkan karya. Setelah melalui proses evaluasi internal serta masukan dari juri, kurator, audiens, dan tentunya orang-orang di sekitar kami, tidak sabar rasanya untuk segera memprosesnya. Waktunya tidak lama. Kami akan menyajikan (pengembangan) Rest in Fear ini di JNM pada 20 Oktober-30 November 2019, menjadi satu dari 54 seniman Asia Tenggara yang terpilih untuk berpartisipasi dalam Biennale Jogja Equator 5.


Leave a Reply