Milenial dalam Eskalasi Warung Kopi Yogya


Menjamurnya warung kopi berbasis co-working space menandaskan suatu perubahan pola belajar dan kerja para intelektual muda di kota pelajar Yogyakarta. Hampir tiap lokasi, terutama di sekitar kampus, jamak ditemukan tempat paling digandrungi para milenial itu. Mereka, dapat dikatakan, adalah konsumen aktif warung kopi, bukan semata karena sajian yang ditawarkan, melainkan menitikberatkan pada tempat. Lanskap tempat warung kopi kini dibonsai sedemikan rupa untuk aktivitas kerja, belajar, diskusi, kencan, dan lain sebagainya.

Saya pernah mengobservasi warung kopi di Yogyakarta yang jumlahnya puluhan itu—diprediksi akan meroket pada setengah dekade mendatang—dan menemukan gejala serupa antartempat. Pertama, mayoritas konsumen adalah milenial, baik berstatus sebagai pelajar maupun mahasiswa, yang praktis membawa laptop. Mereka tampak sedang mengerjakan sesuatu, entah tugas kuliah atau bisnis.

Kedua, baik individu maupun komunal, para milenial itu melakukan percakapan manual atau digital dengan orang lain. Terlepas dari topik partikular yang dibahasnya, pemandangan ini menjelaskan warung kopi merupakan magnet tersendiri bagi milenial untuk mendefinisikan dirinya di tengah modernisme ruang publik. Titik utama yang hendak saya bentangkan di sini adalah sejauh mana dan bagaimana praktik-praktik pendefinisian diri kaum milenial di warung kopi berbasis “ruang kerja” itu mampu mewacanakan Yogyakarta sebagai kota pelajar dengan pola komunikasi di era Revolusi Industri 4.0.

Ruang Publik

via: wargajogja.net
(Ekologi, salah satu tempat ngopi yang juga kerap digunakan sebagai ‘ruang kerja’ muda-mudi via: wargajogja.net)

Kehadiran warung kopi seperti “merebut” peran instansi pendidikan dalam peranannya sebagai tempat persemaian intelektual yang independen. Kurikulum yang dianut bersifat heterogen tergantung konteks percakapan yang dikehendaki konsumen. Pemeo warung kopi sebagai tempat tongkrong yang nirmanfaat karena distigmakan membuang waktu, uang, dan sekadar penanda identitas sosial kelas menengah atas, saya kira, terbantahkan sejak pertumbuhan intelektual justru mengemuka di sana.

Banyak milenial menghabiskan waktu di warung kopi untuk mengerjakan sesuatu yang produktif seperti menulis, membaca, dan diskusi. Mereka mafhum betapa di warung kopi yang menyediakan fasilitas kondusif untuk berkarya itu justru lebih memikat hati ketimbang ruang-ruang kelas yang monoton. Kaum milenial, pada aras ini, ingin keluar dari kemelut struktural atmosfer instansi pendidikan yang menjenuhkan, sehingga bervakansi ke warung kopi yang mengasyikkan.

Tentu penjelasan ini tak mewakili keadaan faktual di lapangan, namun sepanjang penyelidikan saya atas arena diskursif warung kopi di Yogyakarta, kaum milenial yang haus akan produktivitas intelektual sedikit-banyak bergeser ke sana. Hal itu diperkaya pula oleh aktivitas didaktis yang ditawarkan warung kopi seperti acara bedah buku, seminar skala mikro, pameran atau pertunjukan kesenian, dan kegiatan-kegiatan intelektual lain. Konsumen juga bebas mengadakan acara di sana dengan ketentuan khusus yang (tentu) berorientasi profit bagi produsen. Warung kopi makin terbuka untuk acara-acara kolektif yang didasarkan atas spirit kerja sama.

Relasi Kultural

Perubahan format warung kopi yang berbasis ruang produktif juga menandakan makin mengaburnya batas-batas tempat kerja. Hari ini orang bekerja tak harus di kantor dengan sekat-sekat pemisah, tetapi bisa memanfaatkan warung kopi sebagai arena alternatif. Inilah narasi start-up yang sedang dijadikan buah bibir masyarakat industri yang pada praksisnya juga mengubah pola kerja secara ruang dan waktu. Bekerja bukan lagi ditentukan tempat dan durasi yang mengikat, melainkan dikondisikan berdasarkan independensi maupun kesepakatan.

Bagaimana pun sisi positif itu kini diselebrasikan khalayak milenial, namun niscaya membawa disrupsi baru dalam dunia kerja. Para pekerja lepas yang membidik target pemasukan acap dibingungkan dan dipermainkan dengan adanya keleluasaan ruang dan waktu kerja. Pekerja kreatif seperti desainer atau penulis lepas, semisalnya, sering diteror kliennya untuk diminta merevisi hasil kerjaan di luar jam kerja. Nahasnya lagi, kondisi mereka itu belum dilindungi secara konstitusional oleh negara, sehingga hak pekerja kreatif sering terombang-ambing dalam ketidakpastian hukum.

Serikat pekerja adalah salah satu bentuk kesadaran kolektif untuk merawat sekaligus memperjuangkan hak-hak pekerja kreatif yang direnggut bangunan neokapitalisme secara subtil dan struktural. Kenapa hal ini penting bagi milenial yang sebagian besar adalah anggota pekerja lepas itu? Di tengah diskursus komunikasi digital yang mengubah pola kerja, mereka sudah semestinya saling mempertautkan diri untuk menguatkan. Demikianlah mereka termediasi, terutama dalam relasi dialektis.

Rony K. Pratama
Mahasiswa Pascasarjana
Kajian Budaya dan Media
UGM

(Tulisan ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, 28 Maret 2019)


Leave a Reply