Our Land is the Sea: Politik Identitas atau Praktik Orientalisme?


Film Our Land is the Sea (Air Tanahku) merupakan sebuah dokumenter berdurasi 26 menit yang disutradarai oleh Dr. Kelli Swazy dan Matt Colaciello. Our Land is the Sea menceritakan tentang tiga generasi keluarga Bajau di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dalam menghadapi perubahan budaya dan lingkungan mereka.

Film ini dirilis pertama kali di Jakarta tahun 2018 dan diproduksi atas kerjasama antara Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan Center for Southeast Asian Studies, University of Hawai, Manoa.

Tiga generasi masyarakat Bajau dalam film ini digambarkan melalui identitas yang berbeda menurut zamannya. Generasi pertama Sampela, yang digambarkan melalui orang tua Tarsan, sangat lekat dengan tradisi lokal yang dianggap sebagai bentuk autentisitas masyarakat Bajau. Di sisi lain, generasi pertama juga tidak menafikkan ajaran Islam. Mereka menjalankan tradisi lokal dan syariat Islam dalam satu napas berdampingan.

Generasi kedua Bajau (Andar, Saipa, Tarsan) sudah mengalami transformasi. Mereka berada pada fase urban, di mana identitas atau keragaman berbasis darat sudah mulai masuk. Fenomena itu digambarkan dengan masuknya seorang imam dari Binongko untuk menyebarkan syariat Islam pada 1975.

Beberapa kali sang Imam menyebutkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat Sampela yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Kemudian ia pelan-pelan mengubahnya melalui aktivitas-aktivitas berbasis agama Islam. Generasi ketiga Bajau, yang direpresentasikan oleh Salma, anak Andar, menjadi korban dari rezim pendidikan berbasis darat yang mengeksklusi tradisi.

Produksi pengetahuan yang masuk, baik melalui imam maupun guru di sekolah yang sangat darat sentris, kemudian menganggap bahwa masyarakat Sampela adalah liyan. Mereka harus dinormalkan sebagaimana orang-orang yang tinggal di darat.

Eksistensi kehidupan mereka yang sarat akan tradisi dan pemanifestasian Tuhan dalam segala aktivitas ekologi, serta-merta dianggap tidak normal dan bertolak belakang dengan agama—tentu agama yang dianggap benar oleh orang-orang yang tinggal di darat dan disahkan oleh negara.

Ada cara-cara yang sebetulnya resisten terhadap dominasi Islam dan masyarakat darat, tetapi dilakukan tanpa pemberontakkan yang berarti. Tiga generasi Bajau memiliki cara yang berbeda terkait dengan politik identitas. Mereka hidup pada zaman yang berbeda, pun dengan standar-standar dominan yang kompleksitasnya tidak sama.

(Salah satu frame dalam film Our Land is The Sea)

Elizabeth Shugman Hurd dalam Beyond Religious Freedom: The New Global Politics of Religion memetakan tiga bentuk agama, yaitu lived religion (agama sehari-hari yang dipraktikkan oleh kaum beragama), governed religion (agama yang diregulasi), dan expert religion (agama yang dikaji para sarjana). Dalam film ini Kelli tampaknya ingin menunjukkan batas-batas ruang antarragam agama pada masyarakat Sampela.

Alih-alih menunjukkan ragam tersebut, Kelli datang sebagai warga berkebangsaan asing yang melihat masyarakat Sampela sebagai sebuah ruang diskursus yang eksotis. Dalam beberapa bagian percakapan yang muncul di dalam film nampak transfer ideologi yang kurang jernih.

Kelli sebagai pembuat film tampaknya terlalu buru-buru memaksakan pandangan yang ia yakini, kemudian disampaikan melalui Andar atau tokoh lainnya. Salma adalah generasi ketiga masyarakat Sampela yang menjadi korban atas praktik Orientalisme ini.

Ia sengaja dipertunjukkan sebuah pertarungan wacana yang membuat ia semakin bingung. Ekspresi tersebut muncul ketika Salma datang pada diskusi film ini di Lembaga Indonesia Perancis tahun lalu. Seakan-akan ia terjebak dalam dunia hitam dan putih untuk melihat syariat Islam dan tradisi masyarakat Sampela.

Film Our Land is the Sea menjadi titik awal untuk melihat masyarakat Bajau lebih jauh lagi. Tidak ada yang bisa menjamin sebuah karya akan sempurna karena produksi teks tentu masih tunduk pada mata kamera yang diarahkan oleh ideologi pembuatnya. Oleh karena itu, penting untuk melihat film ini, utamanya jika kita ingin melengkapi wacana yang lebih kompleks lagi melalui beragam jenis karya lainnya.

Eni Simatupang
Mahasiswi Pascasarjana
Kajian Budaya dan Media
UGM


Leave a Reply