Respons Ruang dan Ritual Ketakutan Kelas Pekerja


(Ruang Istirahat OB yang Sempit)

Siang itu, bungkus rokok sudah mulai menipis. Sebuah petanda untuk segera bergegas. Jika tidak, kami akan lebih lama duduk di warung burjo. Hampir dua jam kami menyaksikan para pekerja bioskop menghabiskan waktu istirahatnya di angkringan dan warung gorengan. Mereka yang kerap kita jumpai berdandan rapi, sepatu mengkilap, dan harum, akan menyulap diri berjaket, sandal jepit, serta bekal makanan ditentengnya.

Pemandangan ini ternyata masih kami jumpai di dalam gedung bioskop saat pergantian jam kerja. Seorang pekerja yang baru saja tiba berjalan dengan tergesa menuju sebuah ruang kecil untuk memoles diri. Raut wajah yang semula was-was menjadi sumringah setelah keluar dari bilik ruang ganti.

Mereka harus menyiapkan senyum terbaik untuk menyambut para pengunjung. Alih-alih ingin mengamati pekerja lain, kami duduk di lorong bioskop. Tibalah seorang petugas kebersihan yang berkenan kami ajak diskusi.

Seorang pekerja yang rendah hati dan sederhana membersamai riset kami, mencari jalan menuju ruang-ruang rahasia, serta menerjemahkan ritual ketakutan. Ia menerima kami dengan sembunyi-sembunyi, meski jabatannya cukup aman di kalangan petugas kebersihan lainnya. Kami harus bertemu di tempat parkir yang bebas dari jangkauan CCTV.

Ia menunjukkan sebuah ruang istirahat, khususnya untuk para petugas kebersihan. Tentu ruang istirahat mereka lain dengan para pemandu tiket. Petugas kebersihan memiliki akses ruang istirahat di bawah tempat duduk penonton. Di bawah kemegahan teater, terdapat daun pintu kecil berukuran kurang dari 1,5 meter—lorong itu sempit, penuh material penyangga kursi penonton. Jika akses AC tidak menjangkau, ruang itu akan lembab dan pengap.

Para pekerja harus membungkuk atau berjongkok jika ingin memasuki ruang istirahat tersebut. Di dalamnya lengkap dengan beragam barang antara lain sepatu, baju ganti, kaca, alat perias, galon, dan peralatan makan. Mereka akan bergantian memasuki ruang tersebut.

Berbaring 5-10 menit adalah kenikmatan sementara, karena harus segera bergegas keluar. Dentuman suara film dan hentakan kaki penonton sangat terasa. Lagi-lagi tidak ada yang ideal, mereka akan mengintervensi tubuhnya sendiri agar dapat bernegosiasi dengan ketidaknyamanan.

Kondisi semacam itu juga turut menyokong kemegahan mal. Menyulap janitor room menjadi ruang istirahat adalah ritual pekerja di pasar modern itu. Sekadar  meregangkan otot kaki, bukan berarti mereka leluasa. Setiap saat pihak manajemen akan meninjau dengan wajah garang. Di dalam bilik berukuran sempit, kadang-kadang mereka harus berbagi ruang dengan sampah dan genangan air.

Seringkali mereka jongkok beberapa menit, sebab berdiri di kamar mandi juga cukup menyita energi. Hal serupa juga dilakukan oleh salah satu penjaga butik di mal tersebut. Dua kamar pas yang disediakan oleh pemilik butik, ia sulap menjadi ruang istirahat.

(Beanbag sebagai Intervensi Istirahat)

Fenomena di atas adalah representasi kelas pekerja di ruang publik. Sebuah kontradiksi sangat tampak jelas. Alih-alih menikmati kemewahan, mengisi waktu luang bersama kerabat dan sahabat, ada pihak-pihak yang dipinggirkan. Entah sadar atau tidak, sepotong kentang yang yang jatuh di karpet bioskop akan menjadi masalah besar bagi para pekerja jika kita lalai memungutnya ke tempat sampah.

Pada titik ini kita bukan lagi melihatnya sebagai kewajiban pemilik modal untuk menggaji pekerjanya. Lebih dari itu, muncul sebuah pertanyaan tentang pemenuhan hak paling sederhana, yaitu hak untuk istirahat yang layak.

Pendulum tidak menerjemahkan kelayakan dengan sepihak. Setelah melakukan diskusi dan curah gagasan beberapa kali dengan para pekerja, kami mengajak mereka untuk membayangkan ruang istirahat yang ideal. Dari temuan kami, terdapat dua kategori layak, yaitu layak secara ruang dan bebas dari rasa takut.

Sebagai manusia yang energinya cukup terkuras selama 8 jam bekerja, mereka butuh ruang khusus; tidak berbagi dengan sampah dan alat, cukup udara, serta nyaman. Ketakutan pun akan terbebas apabila semua pihak memiliki kesadaran untuk berbagi ruang istirahat serta mempekerjakan mereka selayaknya manusia.


Leave a Reply