Sebuah Percakapan Tentang Musik Funky Kota


(Gambar via: YouTube – Glow Booth)

Maka disebut Funky Kota karena musik itu dianggap musik yang keren dan memang berkembang di diskotek-diskotek di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bali”

Pembersihan ideologi yang dilakukan oleh Soeharto kala ia menjabat sebagai presiden memang berhasil. Soeharto yang notabene sangat berkiblat ke barat kemudian membuka besar-besaran pintu dari barat, Orde Baru adalah pintu keterbukaan saat itu. Berbagai hal yang berasal dari barat masuk ke Indonesia termasuk budaya. Kita dapat menandai itu dengan kepemimpinan gubernur Ali Sadikin di Jakarta pada tahun 70-an.

Ali Sadikin yang menyadari keran investasi sedang mengalir deras membangun Jakarta dengan cara yang dianggap kontroversial oleh sebagian masyakarat. Diskotek, klub malam, bir, dan lokalisasi diizinkan dan dibangun di era kepemimpinannya untuk mempercepat pembangunan Jakarta sebagai kota metropolitan.

Tanamur, diskotik milik Ahmad Fahmy Alhady, mantan suami Ratna Sarumpaet, adalah diskotik pertama yang dibangun di Jakarta tepatnya di Tanah Abang. Ia menggunakan gaya diskotik yang ada di Amerika dan Eropa. Tanamur adalah cara baru menikmati musik kala itu. Semua orang berdansa di lantai dansa dengan lagu yang diputar oleh DJ di bawah gemerlap lampu disko.

Diskotek adalah ruang tanpa tuhan. Sebagian orang Indonesia yang mengalami culture shock dapat dengan bebas membicarakan obat-obatan, seks bebas, dan alkohol.

Musik dan Narkotika

Bukan barang baru lagi jika musik kerap diasosiasikan dengan obat-obatan. Musik Jazz pernah diasosiasikan dengan penggunaan kokain pada tahun 1920-an – 1930-an, musik Folk pada tahun 1960-an, hingga subkultur disko pada tahun 1970-an (Lyttle & Montagne, 1992). Indonesia kala itu belum memiliki peraturan yang ketat mengenai obat-obatan maka tidak heran jika di diskotek dapat dengan mudah beredar obat-obatan seperti ekstasi.

Berbicara tentang ekstasi, obat itu pernah sempat diasosiasikan dengan sebuah musik yang berkembang di diskotek dan klub-klub malam pada era 90-an yaitu Funky Kota (Funkot).

(Jockie Saputra, sosok yang disebut sebagai pengembang awal musik Funky Kota. Gambar via: soundcloud – Jockie Saputra)

Musik Funkot diyakini dikembangkan oleh seorang DJ bernama Jockie Saputra yang bernama panggung Dr. Beat pada akhir dekade 80-an. Ia menyebut musiknya sebagai Indonesian Funky House. Musik Funkot hadir dengan tempo yang cukup tinggi pada kisaran 140-190 bpm, bahkan hingga 220 bpm, sample-sample yang sederhana dan kadang terkesan cheap. Untuk memahami lebih lanjut tentang musik Funkot, saya berdiskusi dengan seorang musisi elektronik dan seorang komposer sekaligus DJ, Yennu Ariendra dan Djosh Alith.

Untuk mendukung projek keseniannya, Yennu membuat sebuah mapping musik elektronik yang ada di Indonesia, salah satunya Funkot. Ia mencoba mengidentifikasi unsur-unsur yang ada dalam sebuah musik itu baik yang berasal dari luar Indonesia maupun musik-musik dari dalam Indonesia.

Baginya, ketika seseorang memproduksi sebuah musik pengaruh historis yang pernah dialami memiliki peran yang cukup besar. Hal ini yang terjadi juga pada musik Funkot, yang menurutnya memiliki pattern yang serupa dengan yang ada pada musik Patrol, musik tradisional yang berkembang di daerah pesisir terutama Banyuwangi. Bentuk paling sederhana dari musik Patrol adalah iring-iringan sahur yang sering kita jumpai pada bulan puasa.

Menurut Djosh, warna musik Funkot dapat dengan mudah ditemui pada musik-musik tradisional di Indonesia. Contohnya adalah penggunaan Interlocking Figuration, teknik ini dapat kita temui pada musik gamelan Bali yang dengan mudah kita jumpai pada musik Funkot bassline memainkan ritme sinkop. Hal inilah menurut Djosh yang membuat efek ekstasi akan semakin terasa.

Namun cukup sulit itu menentukan batasan-batasan sampai mana sebuah musik dapat dikatakan sebagai musik funkot. Yennu beranggapan bahwa ketika musik Funkot diberi nama Funky Kota, kita tidak menemukan unsur musik Funk sama sekali. Terkadang musik Funkot disebut dengan musik Breakbeat, begitu juga kita tidak dapat menemukan unsur musik Breakbeat sama sekali.

Bahkan jika kita menggunakan platform seperti YouTube untuk mencari musik Breakbeat, hasil penelusuran yang muncul musik Breakbeat berdasarkan apa yang dipahami oleh orang Indonesia mengungguli musik Breakbeat itu sendiri yang di luar Indonesia.

Yennu berpendapat bahwasanya penamaan Funky Kota bukanlah Funky dalam artian musik tersebut berakar pada musik Funk, melainkan funky dalam pemahaman kebanyakan orang Indonesia itu, funky yang berarti keren. Maka disebut Funky Kota karena musik itu dianggap musik yang keren dan memang berkembang di diskotek-diskotek di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bali.

Musik Funkot kemudian dipopulerkan oleh grup musik Barakatak. Mereka adalah grup musik sunda yang kemudian hijrah ke Jakarta untuk beradu di kancah musik nasional dan memilih musik Funkot sebagai jalan mereka.

(Salah satu dedengkot Funkot, Barakatak, mengamini bahwa musik yang dimainkannya untuk menemani orang yang sedang ‘tripping’. Foto via: whiteboardjournal – Tomi Wibisono)

Barakatak sendiri mengamini bahwasanya musik Funkot pada awalnya diciptakan untuk mendukung ketika menggunakan obat-obatan seperti ekstasi. “Memang niat awalnya lagu itu dibuat untuk mendukung orang yang sedang tripping pada saat itu,” ujar Barakatak ketika menceritakan salah satu lagunya yang berjudul Musiknya Asyik dalam wawancaranya bersama Whiteboard Journal.

Hadirnya Barakatak membuat Funkot masuk ke dalam industri musik yang lebih besar dan terima kasih pada para pembajak yang menjadi kaki tangan para label untuk menyebar luaskan musik Funkot.

Dari Kota ke Pinggiran

Ketika berbincang dengan Djosh ia melontarkan candaan tentang Funkot “Ooh, Funkot? Funky di angkot? Hahaha”. Candaan tersebut muncul karena seiring perjalanannya musik Funkot kerap diidentikan dengan musik pinggiran. Hal ini karena sering kali orang-orang melihat musik Funkot diputar oleh supir-supir angkot di Bandung, kota asalnya. Musik Funkot yang memiliki tempo cepat menjadi penyemangat bagi supir untuk saling salip dan mencari penumpang.

(Di samping seringnya musik Funkot dimainkan di angkutan kota sehingga cenderung dianggap musik pinggiran, musisi elektronik, Yennu Ariendra, melihat rekam historis Funky Kota sebagai musik elit pada masanya. Foto via: visualjalanan.org)

Berbeda dengan Djosh, Yennu menolak untuk menyebut musik Funkot sebagai musik pinggiran karena Funkot sendiri lahir dari diskotek dan perlengkapan untuk memproduksi musik elektronik saat itu bukanlah barang yang murah untuk didapatkan, maka baginya musik Funkot adalah musik kelompok elit.

Lain jika berbicara tentang Dangdut Remix, turunan dari Funkot. Menurutnya Dangdut Remix dapat dikatakan sebagai musik pinggiran karena sejak dekade 70-an hingga 90-an musik-musik dari barat terutama Rock masih dipandang sebagai musik selera tinggi dan Dangdut masih dicitrakan sebagai musik kampungan.

Dari uraian di atas, kita setidaknya dapat melihat agensi yang dimiliki lokal ketika dihadapkan dengan fenomena globalisasi ini. Dari sudut pandang ini Funkot dapat dilihat sebagai sebuah lokalitas yang aktif pada saat itu. Ia tidaklah pasif ketika dihantam arus globalisasi yang begitu deras dan kemudian menghilang.

 

(Klik tombol ‘play’ untuk mendengarkan salah satu kumpulan lagu remix Funky Kota dari Prontaxan)

Bibliography:

Lyttle, T., & Montagne, M. (1992). Drugs, Music, and Ideology: A Social Pharmacologial Interpretation of the Acid House Movement. The International Journal of the Addictions, 1159-1177.


Leave a Reply