Transformasi Ruang Publik Pasar Klitikan


(Salah satu potret aktivitas di Pasar Klitikan, Kotagede © Benny Widyo)

Perubahan waktu menemani tata ruang yang satu. Pada setiap perubahannya menampilkan dinamika kehidupan manusia yang beragam. Fenomena ini turut menggambarkan Pasar Klitikan, Kotagede, Yogyakarta – sebuah ruang yang selalu tampak hidup dan dihidupi, baik pada siang maupun malam hari.

Transformasi siang dan malam di pasar ini bukan semata pergantian waktu. Lebih jauh daripada itu, ia menampilkan transformasi nilai-nilai yang mewujud pada setiap entitas: antara lain ragam partisipan, jenis transaksi, bentuk interaksi, serta ragam barang-barang yang dikonsumsi.

Pada malam hari, salah satu sudut Pasar Klitikan, Kotagede, Yogyakarta, tampak riuh oleh peminat barang-barang bekas. Mereka datang dan pergi silih berganti. Aktivitas ini berlangsung selama pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB.

Keintiman yang tampak dari interaksi yang cukup singkat ini bukan semata kegiatan jual beli, melainkan interaksi antar manusia yang seakan mendapat ruang untuk mencurahkan gagasan serta kegelisahan. Alih-alih mencari barang-barang bekas, mereka terlibat dalam obrolan yang cukup serius, bahkan lebih lama dari proses transaksi jual-beli.

Malam itu saya duduk di sebuah emperan, memanjakan pandangan pada para pedagang yang menjajakan barang-barang bekas. Berbeda dengan pasar pada umumnya, rata-rata para pedagang tidak hanya fokus menjual satu jenis barang. Apa yang mereka dapat, itulah yang akan mereka jual. Satu pedagang memungkinkan untuk menjual beragam jenis barang. Pun tidak saling terkait dari sisi kebutuhan.

(Beberapa arloji yang menjadi salah satu komoditas yang dijual oleh para pelapak © Benny Widyo)

Dalam satu lapak, saya dapat menemukan alat-alat elektronik, perabot rumah tangga, kaset, arloji, telepon pintar, kamera digital, pakaian, sepatu, hingga mur dan baut. Tidak semua barang yang dijajakan masih berfungsi dengan baik. Meski begitu, barang-barang yang tidak lagi berfungsi ini tetap ada pemburunya, entah untuk koleksi atau memanfaatkan beberapa bagian dari barang tersebut untuk direparasi.

Ada satu hal menarik yang memantik saya untuk tetap tinggal di sana hingga para pedagang mengemas kembali lapak mereka. Pun saya datang beberapa kali karena romantisme yang hidup di lokasi tersebut. Barang-barang bekas mengalami transformasi.

Jika semula orang-orang mengonsumsi sebuah barang berdasarkan fungsi atas kebutuhan mereka, hari ini Pasar Klitikan, khususnya di Kotagede, menyediakan barang sebagai ruang diskursus baru. Barang-barang bekas tidak semata berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan manusia dengan tawaran harga yang lebih terjangkau. Ia hadir membersamai proses interaksi antar manusia dalam membincang beragam isu dan fenomena.

Seorang laki-laki paruh baya mendatangi sebuah lapak yang sama selama dua hari berturut-turut. Satu minggu terakhir, lapak ini mendapat banyak suplai barang jenis telepon pintar beserta perangkat dan aksesorisnya. Waktu itu hanya ada dua telepon pintar yang masih berfungsi.

Seorang lelaki paruh baya itu semula membeli satu di antaranya. Pada hari berikutnya ia kembali untuk membeli satu telepon pintar dengan merk dan seri yang sama, sebab telepon pintar yang ia beli pada hari pertama ternyata tidak lagi berfungsi. Perbincangan seorang lelaki paruh baya dengan pedagang berlangsung cukup lama.

Satu-dua batang kretek mengantar obrolan mereka. Mulai dari harga barang, kualitas barang, partisipasi politik pada pemilihan umum 17 April nanti, hingga konten debat antarpasangan calon presiden yang sedang berlangsung malam itu di stasiun televisi.

Kekerabatan dan keintiman yang lahir dari percakapan demi percakapan ini meciptakan ruang publik baru berbasis kegiatan jual beli barang-barang bekas. Apalagi kegiatan jual beli di Pasar Klitikan Kotagede hanya di sepanjang emperan beratapkan terpal, tanpa sekat-sekat tembok layaknya pasar pada umumnya.

Kondisi ini menciptakan obrolan-obrolan yang lebih cair. Hegemoni ruang hanya sebatas lapak ini milik masing-masing penjual yang sudah biasa menggelar tikar dan barang dagangannya, tidak ada penguasa pasar atau pemilik bangunan. Oleh sebab itu, tidak ada sistem sewa, bahkan retribusi yang kerap terjadi pada pasar-pasar pada umumnya.

Habermas pernah menegaskan tentang sebuah ruang publik yang mampu mengakomodasi kepentingan individu maupun kolektif, tanpa ada hegemoni dari para pihak yang dominan. Barang-barang bekas yang menjadi primadona utama di Pasar Klitikan tampaknya merealisasikan postulat Habermas tersebut.

Ketika saya mengamati beberapa lapak, membeli barang-barang bekas terkadang sebatas basa-basi untuk memulai obrolan. Umumnya, para pedagang memiliki pekerjaan lain di luar Pasar Klitikan. Artinya, pada siang hari mereka juga berkegiatan untuk memenuhi kebutuhan material, sedangkan membuka lapak di Pasar Klitikan diakui sebagai pemenuhan hasrat curah gagasan bersama.

(Interaksi di Pasar Klitikan tak hanya berkutat soal aktivitas jual-beli, topik apapun bisa jadi hal yang diperbincangan © Benny Widyo)

Para pedagang saling berinteraksi membincang hal-hal di luar kegiatan berdagang. Begitu juga dengan para pembeli. Mulanya para calon pembeli menanyakan harga dan keberfungsian barang yang dijajakan. Namun, ada hal-hal yang lebih dominan dalam perbincangan mereka. Perbincangan itu pun tidak jauh dari keseharian mereka.

Menariknya, selama saya duduk mengamati mereka, tidak satupun obrolan yang mengelukan lapak sepi dan sebagainya. Mereka lebih mengeluhkan kegiatan sehari-hari di rumah dengan istri dan anak, atau membincang tetangga mereka yang terlibat perselingkuhan.

Ruang ini hidup dan dihidupi oleh obrolan sederhana dan intim. Perbincangan yang muncul lekat dengan keseharian para pelakunya. Hasrat untuk saling curah gagasan yang termanifestasi dalam kegiatan jual beli barang kelas ini berlangsung lama tanpa menimbang untung dan rugi secara material.

Eni Simatupang
Mahasiswi Pascasarjana
Kajian Budaya dan Media
UGM

Catatan: Semua foto terkait tulisan ini merupakan hasil potret dari Benny Widyo yang juga melakukan studi etnografi bersama penulis di tempat dan waktu yang sama.


Leave a Reply