Wicara Seniman Biennale XV, Pendulum Membincang Ruang Ketakutan


(Foto: Dansu)

Panggung Jogja National Museum (22/11), menjadi ruang bincang para seniman Biennale. Malam itu para partisipan duduk lesehan mengikuti Wicara Seniman. Dua seniman, Benny Widyo (Pendulum) dan Dian Suci Rahmawati, berbagi kisah selama proses pengkaryaan. Keduanya sama-sama merespons tema besar yang diusung Biennale Jogja XV mengenai Do We Live in the Same Playground?

Arham Rahman, salah satu kurator, memoderatori. Ia mengawali dengan menjelaskan narasi yang disodorkan Biennale. Menurutnya, tahun ini membawa tema ke ranah yang kerap luput tak diperhatikan jamak orang. Ruang pinggiran dianggap sekilas, walau keberadaannya di sekitar manusia.

“Pinggiran itu kami kategorikan ke dalam tiga subtema besar. Sebelumnya kami dialog dengan 54 seniman. Isu yang diangkat itu bermacam-macam. Pertama, gender atau praktik hidup yang tak diakui. Kedua, ritus, praktik seni, atau agama yang tak dianggap arusutama. Ketiga, ruang pinggiran yang meluputi subjek,” jelasnya.

Menurut Arham, gagasan pinggiran yang dimaksud Biennale Jogja XV, itu besifat antagonistik. Maksudnya adalah antagonistik terhadap sesuatu yang hegemonik atau dianggap sebelah mata oleh arus utama. “Pinggiran itu bukan hanya di pelosok seperti anggapan LSM-LSM yang mengandaikan pusat-pinggiran. Pinggiran itu bisa ada di tempat urban,” tambahnya.

Ruang pinggiran, sejauh penjelasan Arhman, menyasar pada subjek, tempat, maupun keadaan. Ia bisa terjadi di mana pun. Benny, salah satu seniman kolektif Pendulum, menuturkan bahwa tema pinggiran yang dipayungkan Biennale sebagai wacana besar kemudian diterjemahkan pada persoalan ruang istirahat bagi pekerja. Benny bersama tim Pendulum—setelah juga berdiskusi dengan kurator Biennale—memperluas ranah observasi dari bioskop ke mal. Ternyata di sana menemukan para pekerja yang tak mendapatkan ruang istirahat secara layak.

Pergeseran objek observasi kemudian dititikberatkan pada ruang istirahat para pekerja di tempat-tempat “modern”. Tempat istirahat yang seharusnya menjadi prioritas hak asasi pekerja kerap kali tak dipersiapkan secara serius oleh korporasi. Sebagai contoh seorang petugas kebersihan di Bisokop Empire, harus beristirahat di bawah tribune tempat duduk penonton. Tempatnya sempit, bahkan untuk masuk harus merunduk.

Membincang karakteristik karya yang dibawa Pendulum, lanjut Benny, disebut sebagai mix-media. Berkonsentrasi pada karya seni visual, fotografi, Benny dan tim memperluas jangkauan artistiknya. Foto memampangkan situasi para pekerja saat di ruang istirahat—dengan ditutup wajahnya—yang mereka duduk di beanbag.

(Foto: Dokumentasi Biennale)

Tempat duduk berupa beanbag ini merupakan bentuk intervensi Pendulum bagi pekerja, di samping pula suatu proyeksi kritik-sosial terhadap korporasi: pekerja harus dimanusiakan, tempat istirahat harus menyamankan.

Komentar-komentar dari pekerja pun diperdengarkan melalui pengeras suara sebagai bentuk pemberian kesempatan kepada mereka untuk mengemukakan pendapat. Nukilan-nukilan kalimat pun dikumpulkan dan ditempelkan di dinding supaya diketahui ujaran semacam apa yang hendak mereka sampaikan kepada publik. Masuk ke galeri Pendulum, pada akhirnya, audiens akan disodorkan keluh-kesah para pekerja dalam ketiadaan tempat istirahat yang layak.

“Pekerja dengan pekerja yang lain sebagai the division of labour dan pekerja dengan produknya menjadi sangat menarik. Banyak statementdi Pendulum tentang itu. Dalam bahasa Jawa. Itu menarik sekali. Pekerja dengan produk yang diciptakan. Itu sangat kuat. selain itu, pekerja dengan konsumennya,” ujar Arham. Kecenderungan itulah yang kuat di Pendulum menurut kurator Biennale Jogja XV tersebut.

Salah seorang audiens diskusi, Asrof, melempar pertanyaan menarik. Apakah terdapat sisi subjektivitas atau trandmark yang dimiliki seniman dalam memproduksi karya. Benny merespons betapa subjektivitas itu keniscayaan, sesuatu yang tak mungkin dihindari. Hal ini lumrah karena betapapun karya seni selalu terikat oleh sisi personal dari senimannya.

(Foto: Dokumentasi Biennale)

Mengenai subjektivitas, Arham, memperdalam pembahasan. Sisi subjektivitas selalu berubah, bahkan menjadi karakteristik, terutama audiens di Biennale. “Memang ada sedikit pergeseran dari watak audiens itu. Dan kesenian itu sendiri beradaptasi, membuat sesuai dengan kecenderungan audiens. Kalau teman-teman memperhatikan beberapa tahun terakhir, memang karya seni yang ditampilkan didesain untuk dibikin seperti wallpaper,” ucapnya.

Namun, tentu tidak semua seniman mendudukkan subjektivitasnya hanya pada satu aspek, yaitu audiens. Pendulum melihat subjektivitas berdasarkan urgensi isu dan penyajian yang dapat merepresentasikan permasalahan tersebut.


Leave a Reply